Nama : Nida An Khafiyya Alhadyie
Sekolah : SMPIT Nurul Ishlah Banda Aceh
POMI POMA
Alunan musik tarian Ranup Lam Puan mewarnai semangat para tamu, peserta, dan pengunjung acara “Aceh Carong Award 2021”. Tarian Ranup Lam Puan ini merupakan visualisasi dari salah satu filosofi hidup warga Aceh, yaitu sikap Aceh yang selalu menjunjung keramah-tamahan dalam menyambut tamu. Tarian yang digolongkan ke dalam jenis tari adat, atau upacara yang terkenal di Aceh ini, berisikan gerakan-gerakan prosesi memetik, membungkus, menghidangkan sirih kepada tamu, dan gerakan salam hormat dengan tangan mengayun ke kiri, ke kanan dan ke depan. Setiap gerakan-gerakan tersebut mengandung makna simbolik tentang ketertiban, keramahan, dan kelembutan sebagai ungkapan keikhlasan menerima tamu.
Meurah tersenyum melihat tujuh orang penari memasuki panggung. Kemudian, ketujuh penari itu berbaris membentuk formasi segitiga, dengan seorang penari yang memakai pakaian tari yang berbeda warna. Ia memakai hiasan kepala paling tinggi dibandingkan keenam penari lainnya, dan berdiri di posisi tengah paling depan. Penari ini biasa disebut sebagai “ratu”. Posisi ini diisi dengan penari yang gerakannya paling lihai dan lembut.
Meurah memperbaiki posisi duduknya. Gadis berhijab 16 tahun ini, dengan semangat menikmati tarian, dan gerakan-gerakan tari di depan matanya. Selagi menikmati tarian, pikirannya menerawang ke masa lalu, tepatnya beberapa tahun silam saat ia masih TK. Pada hari itu, Meurah bertanya pada Mamanya.
“Mama,” Panggil Meurah kecil seraya menggoyangkan lengan Mamanya. Namun, mata Meurah tetap fokus ke atas panggung dimana penampilan tari Ranup Lam Puan sedang ditampilkan.
“Ya?” Tanya Mama Meurah menoleh ke arah Meurah. Cahaya dalam gedung yang remang-remang menutupi wajah kecil Meurah.
“Nanti waktu besar, Meurah ingin sekali menjadi ‘putri’ di tari Ranup Lam Puan. Seperti kakak itu.” Jari Meurah menunjuk ke salah satu penari yang posisinya paling depan. “Boleh, ya, Ma?” Mata Meurah berbinar-binar memohon.
Mama Meurah mengerutkan dahi, “Meurah nanti memang harus jadi putri. Tapi bukan putri tarian Ranup Lam Puan.”
“Bukan putri itu? jadi putri apa?” Tanya Meurah penasaran. Mama Meurah tersenyum, “Meurah tahu, nggak, kenapa Mama kasih nama Meurah, Pocut Meurah Intan?”
Meurah menggeleng. “Itu karena, Mama ingin Meurah menjadi seperti Pocut Meurah Intan ‘Pahlawan Aceh’. Menjadi lebih dari sekedar putri. Putri yang berpengaruh besar bagi negeri ini khususnya Aceh.” Meurah menggaruk hidungnya yang tak gatal, ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang dikatakan Mamanya..
Sekarang, disaat umurnya sudah menginjak 16 tahun, ia baru mengerti apa yang dikatakan Mamanya hari itu. Dan Meurah akan selalu berjuang untuk mewujudkannya. Bahkan, nama pena yang selalu ditampilkan di cover setiap bukunya, bernama “Pomi Poma”.
Pomi adalah singkatan dari namanya yaitu Pocut Meurah Intan. Sedangkan kata Poma yang berasal dari bahasa Aceh, berarti “ibu”. Sehingga, “Pomi Poma” bermaknakan dia, Meurah, adalah seorang anak yang akan selalu berbakti kepada orang tua, bangsa, dan negaranya. Buktinya, Meurah harus mengubur impian kecilnya –yang dulunya ingin menjadi penari, dan menuruti keinginan Mamanya untuk menjadi penulis juga seorang hafidzah.
Musik pengiring Ranup Lam Puan perlahan berhenti. Sang ratu turun dari atas panggung, lalu membungkuk di hadapan para tamu penting dengan tujuan untuk memberikan sirih yang ada di dalam Puan. Puan itu juga berfungsi sebagai properti tari, yang selalu digenggam oleh para penari Ranup Lam Puan.
Sesudah penampilan tari pembuka, panggung diambil alih oleh MC untuk memandu acara. Dan seperti kebanyakan acara pada umumnya, agenda selanjutnya adalah kata-kata sambutan dari berbagai pihak yang tak boleh dilewatkan.
Aceh Carong Award (ACA) merupakan acara 4 tahunan yang mempesertakan pelajar-pelajar berprestasi dari seluruh provinsi Aceh. Pelajar-pelajar yang mendaftar harus memiliki prestasi-prestasi baik di tingkat kota, sampai tingkat internasional. Dan pada malam ini, adalah malam dimana juara dari para sang juara tersebut, akan diumumkan. Acara ini berlangsung di gedung AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala.
Hingga beberapa saat menunggu, seperti yang dijanjikan, MC akan mengumumkan nama sang juara,
“Juara Aceh Carong Award 2021 adalah,-” Seperti pembawa acara kebanyakan, MC menggantung ucapannya yang akan menjadi puncak acara malam ini. Sontak, lautan manusia yang berada di dalam gedung terdiam dan menahan napas menunggu kelanjutan ucapan MC itu.
“Pocut Meurah Intan!!” Seruan MC menggema ke seluruh gedung, dan disambut dengan sorakan juga suara tepuk tangan yang meriah dari seluruh penonton. Seruan yang bersahut-sahut memaksa MC berhenti sejenak.
Keriuhan ini membuat Meurah terkejut. Ia tidak menyangka bisa memenangkan acara yang pesertanya mencapai ratusan orang ini. Karena masih Speechlees dengan situasi ini, Meurah bahkan tidak mengetahui orang-orang yang berada di sekitarnya sibuk menjabat tangan, ataupun mengucapkan apresiasi yang tidak terdengar jelas lagi di telinganya.
MC melanjutkan ucapannya, “Penulis dengan nama pena ‘Pomi Poma’ ini adalah pemenang The S.E.A. Write Award se-Asia Tenggara, lewat novelnya yang berjudul ‘Putroe Aceh Thanks to the World’. Pocut Meurah Intan juga telah menulis 55 novel lainnya. Selain itu, Pocut Meurah Intan juga penghafal Al-Qur’an 30 juz. Wow! Silahkan bagi Pocut Meurah Intan untuk melangkah ke atas panggung, dan mengucapkan beberapa patah kata demi menyambut kemenangan pada malam yang berbahagia ini.”
Sungguh sangat tepat mungkin pertimbangan para juri lomba menjadikan Meurah sebagai juara umum pelajar berprestasi tahun 2021 ini. Novel-novel terbaiknya yang berterima kasih melalui kisah-kisahnya kepada negara-negara di dunia, yang telah membantu Aceh menghadapi musibah Tsunami 17 tahun lalu, benar-benar menarik perhatian juri maupun masyarakat, dan tak mungkin dilewatkan dari list calon-calon pemenang.
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.” Salam Meurah yang langsung dijawab oleh semua orang dihadapannya. Meurah semakin gugup karena menyadari suaranya yang bahkan sudah dibantu dengan 3 microphone, kalah dengan ribuan orang yang menjawab salamnya.
Meurah menatap sebentar tangannya yang sudah mengenggam sebuah piagam berwarna emas. Piagam itu berbentuk Pinto Rumoh Aceh yang berpondasi empat persegi berwarna hitam, yang tertulis “JUARA ACEH CARONG AWARD 2021”.
Pinto Rumoh Aceh adalah desain pintu rumah adat di Aceh yang sangat terkenal dengan keindahan ukiran khas-nya. Pinto Rumoh Aceh ini sudah menjadi lambang kemegahan Aceh sejak zaman dahulu hingga sekarang. Kemegahannya di masa dulu masih bisa dibuktikan dengan adanya gate atau pintu gerbang Mesjid Raya Baiturrahman. Dan pada zaman sekarang, Pinto Rumoh Aceh juga masih banyak dipakai sebagai trend khas daerah dalam bentuk simbol, lambang, motif kain, bahkan souvenir khas aceh.
Tanpa menunggu waktu yang tak pernah menunggunya, Meurah memulai pidatonya. Ia memulainya dengan mengucapkan syukur kepada Allah SWT, juga shalawat terhadap Rasulullah Saw.
“Dan juga,” Sambung Meurah, “Tak lupa, saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada kedua orangtua saya, tanpa adanya dukungan, support, dan motivasi yang selalu mengalir dari kedua orangtua saya, tak mungkin saya bisa menghasilkan 55 novel yang membuat saya berdiri sebagai pemenang disini.” Ucapan Meurah terhenti.
“Juga, 55 novel ini tidak muncul begitu saja di pikiran saya, jika saya tidak mengetahui salah satu tokoh perjuangan ini. Saya sangat-sangat merasa bersyukur bisa mengetahui beliau sebagai motivasi terbesar saya, tentunya selain kedua orangtua saya. Tokoh perjuangan inspiratif ini kebetulan mempunyai nama yang sama persis dengan nama yang saya miliki.” Jeda Meurah lagi, ia membiarkan penonton memaknai sendiri apa yang ia katakan tadi.
“Yap. Sebelum saya memberitahu nama beliau, saya akan meng-flashback sedikit apa yang terjadi di Aceh saat Indonesia belum merdeka.”
“Penjajahan Belanda di Aceh merupakan salah satu perang yang dikategorikan cukup lama dan menelan korban jiwa yang sangat banyak dan biaya yang sangat besar. Inilah satu bukti bahwa tidak mudah bagi orang Aceh untuk menyerah kepada Belanda meskipun raja yang dibangga-banggakan sebelumnya ada yang sudah menyerah. Sehingga, dalam rangka menyelesaikan perang agar tidak terus berkepanjangan ini, Penjajah Belanda menugaskan Snouck Hurgronje untuk mengadakan penelitian mengapa mereka sulit sekali menaklukkan Aceh.” Jelas Meurah seperti merasa hadir dalam peperangan tersebut.
Meurah menyambung kembali ceritanya, “Hasil penelitian Snouck Hurgronje menyebutkan bahwa, rakyat Aceh yang taat beragama Islam tidak mungkin menyerah kepada Belanda sebelum mereka ditundukkan dengan kekerasan. Sikap menunggu dan kompromi tidak akan membawa hasil. Oleh karena itu, mereka merubah taktik perang yaitu dari strategi perang frontal menjadi perang gerilya. Namun, strategi yang berubah semakin ganas itu tidak menyurutkan semangat seorang pahlawan wanita yang namanya melambung karena dikenal dengan keganasan dan keberanian tingkat tinggi. Wanita itu bernama Pocut Meurah Intan.” Tutur Meurah tersenyum lebar. Ia sangat bangga jika tokoh perempuan idolanya itu, bisa ia ceritakan ke banyak orang.
“Pocut Meurah Intan atau Pocut Biheue merupakan salah seorang di antara sekian banyak pahlawan wanita dalam perang mempertahankan Kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Tanah Rencong. Pocut Meurah Intan lahir pada tahun 1873, dari sebuah keluarga keturunan bangsawan. Ayahnya merupakan seorang Hulubalang Negeri Biheu yang terkenal sangat tegas kepada penjajah Belanda. Di saat detik-detik terakhir jantungnya berhenti berdetak, Ia berwasiat pada anak perempuannya itu agar jangan sekali-kali tunduk pada komponi belanda.
Faktor merasa terkhianati dengan suaminya, Tuanku Majid, yang akhirnya tunduk pada penjajah Belanda, membuat jiwa amarahnya terhadap penjajah Belanda makin menggebu-gebu. Bahkan, ia mematahkan perkataan bahwa perempuan itu lemah dan seharusnya memang harus mengurung diri di rumah, dengan mempimpin sebuah perang gerilya yang terjadi di daerah Laweung dan Batee. 2 dari beberapa daerah yang ada di provinsi Aceh.”
Dengan bangga, Meurah mengatakan, “Kisah tentang kegagahan dan keberanian Pocut Meurah Intan ini juga diakui oleh orang Belanda. Ini dibuktikan oleh Zentgraft, seorang serdadu Belanda di masa penjajahan yang beralih profesi menjadi seorang wartawan. Ia meliput perang antara Aceh dan Belanda. Dan akhirnya, dia mengabadikan perjuangan Pocut Meurah Intan dalam bukunya yang berjudul Aceh. Dalam buku tersebut, ia menyebutkan bahwa, Komando Letkol T.J Veltman memberikan gelar kepada Pocut Meurah Intan dengan sebutan Heldhaftintg atau seorang yang gagah berani.”
“Pemberian gelar ‘Atjeh Cyber Warrior’ atau ‘Sang Ratu Perang dari Aceh’ juga sangat tepat kepada Pocut Meurah Intan mengingat semangat juang beliau yang tidak kenal menyerah. Semangat juang yang tak pernah surut tersebut tidak akan kalah apabila dibandingkan dengan semangat juang para pahlawan wanita dari Aceh lainnya yang sudah ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia, seperti Cut Nyak Dhien, Cut Meutia dan Malahayati. Mereka semua itu adalah tokoh-tokoh yang sangat heroik. Tidak sia-sia perjuangan mereka membela Aceh dan Indonesia.
Karena perjuangan merekalah kita bisa hidup dengan tenang tanpa adanya perang-perang seperti dulu. Karena perjuangan dan kegigihan mereka juga, yang membuat mereka bisa dikenal dan dikenang walau sudah akhir hayat.” Meurah tidak melanjutnya ucapannya, ia menghela napas panjang.
“Bukan suatu kebetulan saya bernama sama dengan salah satu tokoh perempuan itu. Bahkan saya bersyukur bisa memiliki nama yang sama dengan nama beliau. Karena dengan itu, saya bisa lebih termotivasi. Karena itu juga, penyebab saya menekuni bidang tulis-menulis ini dengan serius. Saya juga ingin yang bisa membawa kemajuan, ataupun perubahan ke hal yang lebih baik. Saya menuangkan dan menyalurkan itu semua dalam karya-karya saya. Saya ingin ada orang yang termotivasi dengan karya-karya saya, seperti saya termotivasi dengan perjuangan hidup Pocut Meurah Intan dan tokoh-tokoh wanita lainnya,” Belum selesai Meurah menuntaskan perkataannya, seruan dan tepuk tangan kembali terdengar memenuhi gedung.
Meurah menyeka sudut matanya yang sudah mengeluarkan air mata bahagia, seandainya saja orangtuanya berada disini, pasti sangat bangga melihat anaknya menang, dan bisa berhasil pidato di depan orang banyak dengan sangat baik.
“Terima kasih buat semua dukungannya, doakan saya istiqomah dalam menulis, dan bisa memotivasi banyak orang, selayaknya orang-orang yang selama ini memotivasi saya. Terima kasih pada penyelenggara acara yang telah mengumpulkan para juara dari seluruh provinsi Aceh ini, We are the best!” Seru Meurah menaikkan nada bicara di kalimat terakhir seraya mengacungkan kepalan tangannya. Seruan Meurah itu disambut dengan sorakan meriah mengulang kalimat terakhir Meurah.
“Terima kasih semuanya, Waassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!” Tutup Meurah yang langsung dijawab disertai tepukan meriah. Meurah sukses membuat semua orang yang ada di gedung itu terhanyut dengan pidatonya.
Setelah menutup pidatonya, Meurah melambaikan tangan sesaat ke arah audiens. Kemudian, ia turun dari atas panggung menuju tempat duduknya. Ia menerima banyak sekali bucket bunga dari teman-teman, guru-guru, juga penggemar karya-karyanya. Hingga saat ia keluar gedung, sampai memberhentikan taksi, banyak yang mewawancarai dirinya ataupun sekedar mengucapkan selamat.
“Hah..” Meurah mengusap peluhnya penat. Ia kini sedang berada di dalam taksi menuju rumahnya.
Kemenangan ini benar-benar membuat Meurah sangat bahagia, dan tentunya berkesan luar biasa. Jarang-jarang ia bisa pidato di depan banyak orang seperti tadi. Apalagi, berpidato tentang Pocut Meurah Intan, seorang pahlawan wanita yang selama ini menjadi idolanya.
Sembari memejamkan matanya untuk istirahat sebentar di mobil, di kepalanya masih tergiang-giang perkataan Bapak Gubernur sebelum ia keluar gedung.
“Pocut Meurah Intan, kami mohon kesediaan ananda menjadi ‘Putroe Aceh’ untuk tahun ini. Insya Allah, dalam waktu dekat ini, akan diadakan malam penganugrahaannya, siapkan dirimu untuk penobatan, ya!”
Meurah tersenyum kecil seraya mengucapkan syukur, tak sia-sia ia menuruti nasihat Mamanya. Tak terbuang juga waktu, jerih payah, dan usahanya selama ini untuk menghasilkan 55 karya yang sebenarnya tidak mudah baginya. Tapi semua itu terbayar dengan pengalaman berharga, motivasi besar, dan juga hal baru yang muncul dalam hidupnya.
“Terima kasih, Mama. Karena sekarang, Meurah adalah ‘Pomi Poma’” Gumam Meurah tersenyum dalam benaknya.
-The End-
Category : Artikel , Karya Siswa ,

