Nama : Muthi’ah Hanina
Sekolah : SMP IT Nurul Ishlah
TRAGEDI DI MUSEUM TSUNAMI
“Horeee….! Liburan tiba…!!!” teriakku kegirangan. Ya, aku memang sudah lama menanti saat ini. Dari beberapa agenda kami di liburan ini yang paling aku suka adalah berkunjung ke Museum Tsunami.
Museum Tsunami adalah salah satu situs sejarah di Aceh yang dirancang sebagai monument untuk bencana gempa dan Tsunami sekaligus pusat pendidikan bencana dan tempat perlindungan darurat andai Tsunami terjadi.
Oya, keluarga kami ada lima orang. Yang pertama sebagai kepala keluarga adalah ayahku yang kami panggil Abi. Abi adalah seorang pengusaha. Abi orangnya sangat asyik diajak ngobrol. Abi adalah orang yang sangat pengertian dengan keluarganya.
Sedangkan Umi, beliau adalah seorang ibu yang sangat perhatian kepada kami semua. Kasih sayangnya yang sangat besar memenuhi setiap aktivitas kami sehari-hari.
Namaku Nasywa. Aku sekarang duduk di kelas 7 di sekolah SMP IT Nurul Ishlah Banda Aceh. Aku adalah orang yang paling bersemangat. Sangking semangatnya, terkadang juga bisa ceroboh. Hehe
Selanjutnya adalah Syahida. Syahida adalah adikku yang pertama. Sekarang Syahida duduk di kelas 4 di sekolah SD Negeri 55.
Dan terakhir….
Nina. Nina adikku yang terakhir yang sedang bersekolah di TKIT AR-Rahmah.
Hari yang dinantikan pun tiba. Kami sekeluarga berkunjung pada hari Selasa. Oh ya, museum ini bukanya setiap hari kerja mulai hari Senin sampai dengan Jum’at.
Tiba di museum, terlihat keramaian yang luar biasa. Sepertinya banyak keluarga yang punya tujuan yang sama seperti kami. Kamipun segera berbaris di antrian tiket masuk.
Museum tsunami Aceh yang berbentuk kapal ini adalah hasil rancangan lulusan Arsitektur ITB yang bernama Ridwan Kamil. Dari dekat tidak kelihatan berbentuk kapal karena dimensi bangunan yang besar, tetapi kalau dilihat dari udara tampaklah seperti kapal dengan cerobongnya.
Desain dan pembangunan Museum Aceh dengan konsep ‘Rumoh Aceh as Escape Building’ mempunyai beragam filosofi. Pada lantai dasar museum ini menceritakan bagaimana tsunami terjadi melalui arsitektur yang didesain secara unik. Pada masing-masing ruangan memiliki filosofi tersendiri yang mendeskripsikan gambaran tentang tsunami sebagai memorial dari bencana besar yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 silam yang menelan korban jiwa dalam jumlah yang cukup besar mencapai kurang lebih 240.000 jiwa. Berikut filosofi dari design lantai dasar Museum Tsunami Aceh.
Dan bangunan ini memiliki filosofis dengan makna yang dalam. Bagian vertikal, yakni mengarah ke arah langit, dari bangunan museum ini melambangkan ”habluminallah”, yaitu hubungan dengan Allah. Sedangkan bagian horizontal bangunan yang mengarah ke samping dan meluas, menggambarkan “hablumminannas”, yaitu hubungan dengan manusia
“Assalamu’alaikum….” Sapa seseorang.
Abi yang menoleh ke asal suara langsung terlihat surprise. Sepertinya beliau salah seorang temannya yang sudah lama tidak bertemu. Mereka terus berbincang akrab dan lama meskipun tiket sudah kami dapatkan.
Karena sudah cukup lama menunggu akhirnya aku mengguncang pelan tangan Abi, “Abi, kami duluan masuk ya..”kataku.
“Nggak tunggu Abi dulu?”kata Abi.
“Kakak sudah penasaran sekali Abi, please….” Aku dengan pandangan memohon.
Melihatku seperti itu akhirnya aku diizinkan dengan syarat membawa 2 orang adik perempuanku bersama dan menjaga mereka jangan sampai terpisah dan akhirnya bisa tersesat. Sementara itu, Ummi terus menemani Abi di luar.
Kami bertiga masuk ke dalam museum yang megah itu. Bangunan ini sangat besar dan berbentuk sangat artistik. Sepintas bentuknya seperti tidak beraturan, namun sebenarnya ini adalah sebuah mahakarya arsitektur yang rumit. Unik dan kereen pokoknya!
Ruangan pertama yang kami masuki bernama ”Space of Fear” (lorong tsunami). Lorong Tsunami merupakan akses awal pengunjung untuk memasuki Museum Tsunami. Memiliki panjang 30 m dan tinggi mencapai 19-23 m melambangkan tingginya gelombang tsunami yang terjadi pada tahun 2004 silam. Air mengalir di kedua sisi dinding museum, suara gemuruh air, cahaya yang remang dan gelap, lorong yang sempit dan lembab, mendeskripsikan ketakutan masyarakat Aceh pada saat tsunami terjadi, atau disebut space of fear.
Ruangan ini sangat gelap dan tercium bau lembab. Lantainya becek dan berair, seolah kami memasuki sebuah gua dengan langit-langitnya yang tinggi. Suara orang mengucapkan Laa ilaaha illallah bergema memenuhi ruangan. Sejenak kami merasakan seolah-olah Tsunami sedang terjadi saat itu. Aku merinding dan tanganku memegang erat adik-adikku karena gelapnya ruangan itu.
Ruangan kedua yang kami masuki bernama ”Space of Memory” (ruang kenangan). Setelah berjalan melewati Lorong Tsunami, pengunjung akan memasuki Ruang Kenangan ini. Ruangan ini memiliki 26 monitor sebagai lambang dari kejadian tsunami yang melanda Aceh ada 26 Desember 2004. Setiap monitor menampilkan gambar dan foto para korban dan lokasi bencana yang melanda Aceh pada saat tsunami sebanyak 40 gambar yang ditampilkan dalam bentuk slide. Gambar dan foto ini seakan mengingatkan kembali kenangan tsunami yang melanda Aceh atau disebut space of memory yang tidak mudah untuk dilupakan dan dapat dipetik hikmah dari kejadian tersebut.
Ruang dengan dinding kaca ini memiliki filosofi keberadaan di dalam laut (gelombang tsunami). Ketika memasuki ruangan ini, pengunjung seolah-olah tengah berada di dalam laut, dilambangkan dengan dinding-dinding kaca yang menggambarkan luasnya dasar laut, monitor-monitor yang ada di dalam ruangan dilambangkan sebagai bebatuan yang ada di dalam air, dan lampu-lampu remang yang ada di atap ruangan dilambangkan sebagai cahaya dari atas permukaan air yang masuk ke dasar laut.
Selanjutnya kami masuk ke sebuah ruangan yang dindingnya dipenuhi oleh berbagai nama yang seolah terpahat. Ruangan ini bernama “Chamber of Blessing’ (sumur doa). Nama-nama para korban Tsunami yang tentunya tidak mungkin semuanya ada di situ. Ada sekitar dua ratus ribuan jiwa yang meninggal akibat terjangan Tsunami di Aceh yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu.
Ruangan berbentuk silinder dengan cahaya remang dan ketinggian 30 meter ini memiliki kurang lebih 2.000 nama-nama koban tsunami yang tertera disetiap dindingnya,yang didapat dari Palang Merah Indonesia. Ruangan ini difilosofikan sebagai kuburan massal tsunami dan pengunjung yang memasuki ruanga ini dianjurkan untuk mendoakan para korban menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Ruangan ini juga menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhannya (hablumminallah) yang dilambangkan dengan tulisan kaligrafi Allah yang tertera di atas cerobong dengan cahaya yang mengarah ke atas dan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Ini melambangkan bahwa setiap manusia pasti akan kembali kepada Allah (penciptanya).
Ingatanku melayang ke cerita Abi bahwa selesai Tsunami, semua orang kembali ke lokasi bencana untuk mencari para keluarga mereka yang menjadi korban. Mereka berharap ayah, ibu dan anggota keluarga lainnya selamat, kalaupun tidak mereka berharap bisa menemukan mayatnya. Namun, kebanyakan mereka tidak menemukan keluarganya walaupun harus mencari ke berbagai lokasi penampungan ataupun kuburan massal. Aku mengusap air mataku yang tiba-tiba berair.
Karena adikku Syahida ingin segera masuk ke bioskop, kamipun keluar dari ruangan tadi menuju ruangan bioskop mini yang memutar video rekaman peristiwa Tsunami di Aceh.
Kami melewati “Space of Confuse” (ruang kebingungan). Sesuai dengan namanya, ruang kebingungan ini menuntun pengunjung berjalan di lorong dengan lantai yang bergelombang. Para pengunjung berpegangan pada besi sepanjang dinding untuk menyeimbangkan diri saat berjalan. Ruangan ini merepresentasikan para korban yang kebingungan mencari jalan keluar, mencari sanak keluarga yang hilang, harta benda, dan segalanya. Kepalaku pusing setelah melewati lorong cerobong. Namun semangatku untuk berjalan lagi menghilangkan rasa pusingku.
Kami terus berjalan menuju ”Bridge of Hope” (jembatan harapan). Jembatan ini adalah akhir dari kepedihan menuju cahaya kebahagiaan. Pengunjung menuju jembatan yang terbuat dari material kayu dan terbentang di atas kolam. Panjangnya mencapai lima belas meter. Terpampang pula bendera 55 negara yang turut membantu warga Aceh pasca tsunami. Di area dekat museum dibangun taman berbentuk bukit yang diharapkan bisa mencegah gelombang air laut masuk ke dalam museum. Atap museum juga sengaja dibuat landai agar nantinya bisa menampung para penduduk karena fungsi bangunan ini juga sebagai tempat berlindung bila Tsunami datang lagi.
Selajutnya kami memasuki ruangan bioskop. Nina, adikku yang paling kecil, umurnya baru empat tahun dan dia awalnya agak takut masuk karena suasana yang gelap. Namun setelah dirayu dengan berbagai jurus saktiku, akhirnya dia mau masuk juga.
Airmataku terus mengalir menyaksikan peristiwa yang menyedihkan itu. Aku merasakan kebesaran Allah SWT dan berdo’a semoga para korban menjadi para syuhada dan menjadi penghuni surga. Setelah menenangkan diri sesaat, akupn beranjak keluar ruangan bioskop.
Ruangan selanjutnya dipenuhi dengan berbagai barang dengan kondisi rusak berat akibat digulung Tsunami. Motor roda dua yang berlipat, AlQur’an yang kotor terkena lumpur namun kondisinya masih bisa dibilang utuh. “Allahu Akbar!” sepontan aku bertakbir. Tiba-tiba, Deg!!! Aku hanya melihat Syahida, Nina mana?
Aku bertanya kepada Syahida apakah dia melihat Nina namun dia hanya bisa menggeleng. Aku panik dan sangat takut. Ya Allah…di mana adikku? Abi pasti akan marah besar…!
Dengan panik aku dan Syahida segera mencari Nina sambil sekali-kali memanggil namanya. Namun keramaian yang cukup padat membuat pandangan kami tidak leluasa. Kami terus berjalan celingak-celinguk sambil terus berdo’a.
Akhirnya pencarian kamipun kembali ke ruangan “Space of Memory” (ruang kenangan). Ruangan itu berjajar beberapa monitor yang memutar peristiwa Tsunami. Kami sudah seperti detektif ulung yang mencari semua petunjuk walaupun sangat kecil. Mata kami jelalatan melihat ke sana kemari. Dan tiba-tiba di salah satu monitor, aku melihat sebuah cincin kecil…..cincin adikku!! Eureka..!
Aku dan Syahida mendekat dan dengan sangat berhati-hati mengambil cincin Nina. Tiba-tiba suhu udara menghangat dan aku merasakan percikan air ke wajah dan bajuku! Aku dan Syahida terangkat dan tersedot ke monitor itu!
“AAAAaaaaaaa!!!!”kami berteriak sekuat-kuatnya.
Di depan kami bergemuruh gelombang Tsunami menabrak dan menggulung semua yang ada di depannya. Sekonyong-konyong aku sudah berada di atas atap tempat wudhu Mesjid Raya Baiturrahman yang hampir ikut tertelan gelombang dahsyat itu.
“SYAHIDAAA!!” teriakku.
Syahida terseret ombak dan tangannya berusaha menggapai apapun yang ada disampingnya. Aku terus berteriak sekuat-kuatnya sambil berusaha mengikuti adikku dari atas atap tempat wudhu itu. Sementara itu Syahida terus berjuang melawan maut terseret ombak ganas. Aku menangis sejadi-jadinya dengan putus asa…
“Kak Nasywa…kak Nasywa..” sayup-sayup aku mendengar suara memanggil.
Suara itu…suara Nina adikku!. Aku segera menoleh namun dia tak terlihat!
“Kak Nasywa bangun…sudah subuh…”suara itu semakin jelas dan dekat.
Aku terbangun dan melihat Nina adikku yang hilang di depanku. Aku memeluknya erat sementara mataku berderai airmata.
Alhamdulillah, ternyata hanya mimpi….

